Jumat, 04 April 2014

D4 Teknik Pengelasan,, Lambang simbol WELDING ENGINEERING

Kali ini aku mau sedikit share tentang salah satu Jurusan Perkuliahan di kampus q tercinta PPNS, Jurusan D4-Teknik Pengelasan. Bahasa kerennya “Welding Engineering”, hehe…
D4-Teknik Pengelasan
( Welding Engineering )
Hmm….sekilas sih agak aneh ya nama jurusannya, aku mikir juga kenapa kok aku bisa terjerumus di jurusan yang aneh ini, hehe…. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintai dan semakin tertarik dengan apa yang aku geluti sekarang. Mungkin akan begitu juga bagi temen2 semuanya. Disini akan aku sebutkan alasan2 knapa kamu2 semua harus memilih Jurusan paling keren D4-Teknik Pengelasan (WE).
Visi :
> Sebagai institusi pendidikan profesional dalam bidang pengelasan dan menyiapkan lulusan untuk mampu berkompetisi dan beradaptasi dengan perubahan global
Misi :
> Melaksanakan program pendidikan yang mendukung perkembangan dan penerapan teknologi pengelasan
> Menyediakan infrastruktur dan lingkungan akademik yang kondusif untuk penerapan proses pembelajaran yang efektif dan efisien dalam rangka menghasilkan lulusan yang terampil, kreatif dan inovatif
> Menyelenggarakan pendidikan professional yang bekerja sama dengan industri sekitarnya sebagai teaching industry untuk memenuhi kebutuhan ekonomi global dan perkembangan industri
> Menyelenggarakan pendidikan sistem Link & Match yang dapat memberikan pembekalan praktis dan manajerial dari sisi penerapan dan pengembangan ilmu dan teknologi
> Membina dan mengembangkan nilai, etika, moral dan budaya profesional di lingkungan pendidikan
Kompetensi yang diberikan oleh Jurusan D4-Teknik Pengelasan ini adalah :
> Welding Designer
1. Mampu mengidentifikasi material serta memahami simbol
pengelasan, geometri sambungan dan diskontinuitas
pada pengelasan
2. Mampu merencanakan dan mengkoordinasikan kebutuhan
material, tenaga kerja, penjadwalan serta perhitungan biaya
dalam pekerjaan-pekerjaan dibidang pengelasan
3. Menguasai welding code, mampu mendesain dan
mengkualifikasikan welding procedure
> Welding Inspection
1. Menguasai pengujian Destructive Test dan
mengaplikasikannya
2. Menguasai pengujian Non Destructive Test dan
mengaplikasikannya
3. Mampu bertanggung jawab dan bertugas sebagai
inspektur las, menguasai metalurgi pengelasan, proses
pengelasan dan pemotongan
> Manajerial
1. Mampu melaksanakan pekerjaan manajerial
2. Mempunyai wawasan kewirausahaan
Mata Kuliah yang ada di Jurusan D4-Teknik Pengelasan dikategorikan sesuai kompetensi diatas, antara lain :
> Welding Designer
a. Gambar teknik
b. Praktek fabrikasi dasar
c. Proses manufaktur
d. Teknologi las
e. Kelelahan dan kepecahan
f. Konstruksi baja
g. Praktek las
h. Konstruksi kapal
i. Perlakuan panas
j. Praktek DT – NDT
k. Teknologi las aplikasi
l. Praktek manufaktur dibantu komputer
m. Penyambungan non logam
> Welding Inspection
a. Teori NDT
b. DFKI KU & BT
c. DFKI tangki & pipa
d. DFKI kapal
e. Inspeksi las
f. Studi kasus pengelasan
g. Praktek kualifikasi las
h. Korosi dan pengendaliannya
i. Praktek uji bahan
j. Quality control assurance
> Manajerial
a. Kewirausahaan
b. Ekonomi teknik
c. Analisa biaya

Sebenarnya sempat berfikir, seperti apakah program studi teknik pengelasan itu, dan kenapa kok namanya teknik las. Dan parahnya knp kok ak bisa masuk ke jurusan ini.. hehe. apa besok q jadi tukang las ya? sempat minder :/ kalau bertemu teman2 dan ditanya kuliah harus nyebutin prodi ini. Pasti banyak yang senyum2 ma ketawa. malu. campur aduk sempat ada penyesalan.. tetapi. . ak yakin 1 hal, semua ilmu itu bermanfaat, walau q belum tau esok akan menjadi apa tetapi ak yakin, teknik las ga begitu buruk. Just watch and see, waktu yang menentukan. Dan yg pasti enjoy aja toh semua tergantung dr individu masing2. Dan sedikit bocoran.. menurut info gaji lulusan alumni teknik las first graduate paling tinggi dr semua jurusan se-PPNS . . Tetapi itu tetap tergantung individu masing2 loh ya :) hehe.. just watch, and see. Good Luck welding engineer ..

Memperkenalkan kampusku. .

  

Sejarah Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) berawal dari adanya Program Non Gelar PAT (Pendidikan Ahli Teknik) ITS Jurusan Teknik Perkapalan pada tahun 1979 yang saat itu berlokasi di jalan Basuki Rahmad Surabaya. Pada tahun 1982, Program Non Gelar PAT dikelompokkan menjadi Fakultas Non Gelar Teknologi yang didalamnya memiliki Jurusan Teknik Perkapalan. Hingga pada tahun 1986, adanya program “loan agreement” dengan World Bank pemerintah melalui Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi menawarkan pembukaan politeknik baru di ITS dan rektor ITS kala itu langsung menerima tawaran tersebut dan berdirilah Politeknik Perkapalan – ITS, pembangunan fisik gedung politeknik langsung dikerjakan pada tahun yang sama dan berlokasi di kampus ITS Sukolilo. Tahun 1987 adalah tahun pertama Politeknik Perkapalan ITS menerima mahasiswa baru. Jurusan yang digelar saat itu adalah: - Jurusan D III Teknik Bangunan Kapal - Program Studi DIII Teknik Perancangan dan Konstruksi Kapal - Program Studi D III Teknik Bangunan Kapal  2. Jurusan D III Teknik Permesinan Kapal 3. Jurusan D III Teknik Kelistrikan Kapal Tahun 1991 Politeknik Perkapalan – ITS berubah nama menjadi Politeknik Perkapalan Surabaya – ITS dan pada tahun 1996 berubah nama lagi menjadi Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya - ITS (PPNS - ITS). Pada tahun 2003, PPNS bekerjasama dengan Depnakertrans RI mendirikan Program Studi D4 Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (TK3) yang menjadi terobosan bagi pendirian program D4 di PPNS. Pada periode tahun 2003 sampai dengan tahun 2007, PPNS berhasil mendapatkan dana hibah kompetisi TPSDP yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas lulusan. Pada tahun tersebut, keberhasilan program TPSDP dikuti pendirian 4 (empat) program studi baru, yaitu: D4 Teknik Pengelasan, D4 Teknik Perpipaan, D4 Teknik Desain dan Manufaktur serta D4 Teknik Otomasi. Dalam perjalanannya, PPNS selalu berbenah diri. Pengembangan SDM terus dilakukan baik tenaga edukatif maupun non edukatif seperti mengembankan tugas belajar S2 ke luar negeri untuk tenaga pengajar antara lain: Amerika Serikat, Taiwan, Australia, Inggris, Jerman dan Swedia. Sebagai satu – satunya Politeknik Negeri yang bergerak di bidang pendidikan vokasional perkapalan dan berorientasi pada marine manufaktur PPNS ITS selalu meningkatkan kualitas pendidikan dan berhasil memenangkan berbagai dana hibah yaitu Grant Due Like Batch II, dua Grant TPSDP Batch II dan Batch III, Grant INHERENT dan Grant IMHERE Batch IV. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pembelajaran pun selalu dilakukan. Hal ini ditunjukkan antara lain dengan kelengkapan laboratorium, fasilitas, gedung perkuliahan yang representatif dan pembangunan gedung Direktorat PPNS – ITS yang diresmikan pada 20 Februari 2010 oleh Mendiknas RI Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA. Tersedianya gedung yang representatif merupakan modal penting untuk terlaksananya berbagai kegiatan pembelajaran yang aman, nyaman, efektif dan efisien. Sistem manajemen kualitas yang diterapkan oleh PPNS berhasil mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008.  Satu catatan yang perlu disampaikan adalah PPNS merupakan perguruan tinggi satu-satunya yang memiliki Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3). Panitia ini dibentuk untuk menjamin setiap unsur kerja yang ada di PPNS telah sesuai dengan standar K3.  Fokus Utama: Lulusan yang Kompeten Amanat yang diemban Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) sebagai institusi Pendidikan Tinggi Vokasi membawa konsekuensi berupa upaya berkelanjutan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. PPNS sadar betul bahwa pendidikan dan industri merupakan mata rantai tak terpisahkan.  Lulusan yang siap kerja memberikan keuntungan bagi industri, namun hal ini hanya akan tercipta bila industri memberikan peran nyata untuk ikut mematangkan proses pendidikan agar tidak dilepas dalam kondisi ’setengah masak’, namun sudah ’siap saji’. Mata rantai ini yang terus dijaga dan dibangun oleh PPNS untuk menjaga mutu lulusan agar sesuai dengan kebutuhan para pemangku kepentingan. Untuk mencapai hal tersebut, PPNS menjalin kerjasama dengan industri yang terlembagakan dalam wadah yang disebut sebagai IAB (Industrial Advirory Board) atau Dewan Penasehat Industri untuk pengembangan pendidikan di PPNS. Saat ini IAB PPNS diketuai oleh Bapak Joeswanto Karijodimedjo, Presiden Direktur PT Jasa Marina Indah Semarang. Keanggotaan IAB meliputi para pemimpin perusahaan baik kapal maupun non kapal seperti PT PAL, PT DOK, PT INKA, PT Mecco Inoxprima, dll. IAB mengadakan rapat kerja tahunan rutin untuk memberikan masukan tentang kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja, masukan untuk perbaikan kurikulum atau proses pembelajaran, dan banyak hal lain untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan di PPNS. Dalam proses pembelajarannya, mahasiswa PPNS harus menempuh On The Job Training (OJT) atau magang kerja selama 1 semester di perusahaan. OJT ini berbeda dengan kerja praktek, karena dalam OJT mahaiswa benar-benar bekerja sehingga mengalami pengalaman nyata dalam bekerja. Selain itu, mahasiswa juga memperoleh pengalaman langsung untuk berinteraksi interpersonal dalam bekerja dan memahami etos kerja. Dengan demikian, OJT akan membentuk karakter siap kerja dan menghilangkan gap antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Bagi Industri, OJT memberikan keuntungan tak langsung yakni menghilangkan waktu adaptasi awal bekerja dan secara langsung keberadaan mahasiswa OJT akan menurunkan biaya langsung tenaga kerja karena mahasiswa OJT mampu bekerja tanpa dibayar (atau dibayar lebih rendah dari pada tenaga kerja resmi).  Meskipun sudah banyak mitra industri PPNS yang sudah menjalin kerjasama dengan sangat baik dalam pelaksanaan OJT, masih disayangkan karena ada perusahaan yang belum sepaham dengan konsep OJT di PPNS. Sebagai bukti atau pengakuan akan kemampuan dalam menguasai bidang/profesi tertentu, PPNS tidak hanya memberikan ijazah, namun masih ditambah dengan Sertifikat Kompetensi yang diberikan kepada para mahasiswa yang lulus uji kompetensi sesuai dengan program studi yang ditempuhnya. Sertifikat kompetensi tersebut adalah: Welding Supervisor, Liquid Penetran Test dan Ultrasonic Test untuk mahasiswa Program Studi   D III Teknik Bangunan Kapal; untuk mahasiswa Program Studi DIII Teknik Permesinan Kapal dibekali sertifikasi Pendingin (HVAC), Machining, dan Reparasi Motor; sementara untuk mahasiswa Program Studi D III Teknik Kelistrikan Kapal di berikan sertifikasi instalasi listrik dan elektronika; Sertifikasi CAD 2-D dan CAD 3-D diberikan untuk mahasiswa Program Studi D III Teknik Perencanaan dan Konstruksi Kapal; CAD 3-D dan Computerized Numerical Control (CNC) diberikan untuk mahasiswa Program Studi D IV Teknik  Desain dan Manufaktur; sertifikasi Welding Inspector diberikan untuk Program Studi D IV Teknik Pengelasan dan D IV Teknik Perpipaan; sertifikasi Program Logic Control (PLC) diberikan untuk mahasiswa Program Studi D IV Teknik Otomasi; Program Studi Teknik D IV Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja diberikan sertifikasi Ahli K3 Umum. Sehingga setiap lulusan dari PPNS selain memiliki ijasah akademis juga memiliki sertifikat profesi. Upaya yang dilakukan ternyata membawa hasil. Lulusan PPNS relatif cepat terserap di dunia kerja, bahkan banyak mahasiswa yang sudah diterima untuk bekerja di perusahaan walaupun mereka belum resmi lulus. Hasil yang membanggakan ini merupakan buah dari kerja keras dan kekompakan dari semua pihak, mulai dari manajemen, dosen, karyawan, dan mahasiswa serta didukung dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang representatif.  PPNS dari sudut pandang yang lain: Public Training Salah satu program yang terus berjalan dan menjadi unggulan citra publik PPNS adalah pelatihan profesi dilaksanakan bekerja-sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Program ini telah berlangsung sejak tahun 1996, pelatihan profesi dan sertifikasi tersebut antara lain: Operator Boiler Kelas I, Operator Pesawat Angkat – Angkut Kelas I, Ahli K3 Umum, Ahli K3 Pesawat Uap dan Bejana Tekan, dll. Sejak tahun 1991 PPNS rutin mengadakan sertifikasi Welding Inspector, sertifikasi ini merupakan kerjasama PPNS dengan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI (saat ini berubah nama menjadi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI) serta  Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (saat ini berubah nama menjadi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral). Dalam perkembangannya, sejak  tahun 2009 PPNS telah berhasil memenuhi syarat sehingga ditunjuk oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Las sebagai Tempat Uji Kompetensi (TUK) Las baik las SMAW maupun Non SMAW, sehingga sejak tahun 2010 ini Diklat Welding Inspector  dilaksanakan atas kerjasama antara TUK Las PPNS dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).  Masih dalam bidang pengelasan, PPNS juga bekerjasama dengan JWES (Japan Welding Engineer Society), IWS (Indonesian Welding Society) dalam menyelenggarakan sertifikasi personal sebagai Welding Engineer.


Foto yg menenangkan . .


why always like this..